Terpekur
terpekur pada tafakur
merenungi takdir
yang datang membentur
hingga rasa sesal hadir..
sehingga malam menyepi pagi
bahkan tak suara.. pun derik..
tak setitik menyemai rungu..
hingga tafakur menemui dengkur
(jakarta, 15 agustus 2008)
Filed under cerita kata | Comment (0)Gelisah Dalam elevasi kedamaian
Gelisah Dalam elevasi kedamaian
Dari ketinggian dengan elevasi yang cukup untuk memandang sekeliling. Di balik jendela dia memandang keluar dan mengamati sekeliling. Sembari memainkan jemari dan mengetikkan beberapa kalimat dalam surat yang dia kirimkan via email ke seseorang.
Sembari mengamati sekelilingnya, mengamati kondisi lalu lintas, mengamati kondisi ruang kerjanya, dia memulai untuk menerawangkan pikirannya pada “awang-awang”.. sebuah angan tentang kebebasan, tentang ketenangan…seolah menginginkan diri menjauh dari segala hal yang “mumet” dan mengkungkung..hal-hal yang bertentangan dengan idelismenya..
Dia mulai terbawa ke dalam angan dan mulai melihat dirinya terbebas dari segala sesuatu. Dia melihat kendaraan yang dia tumpang terus merayap kelelahan terjebak dalam macet lalu lintas yang senyawa dengan nafas hariannya. Dia melihat laptopnya teronggok sepi di atas meja berdebu tak terurus. Dia melihat anaknya terunduk lesu dalam dekapan bundanya yang wajahnya menyisakan raut kelelahan dan kesedihan. Dia melihat teman-temannya menjadi gelisah sebab tak punya kerjaan dan tak bisa bekerja. Dia melihat segalanya murung, sedih, gelisah setelah dia mendapati dirinya dalam ketinggian yang menentramkan.
Belum beberapa menit, tiba-tiba kegelisahan meliputi hatinya. Nuraninya bergolak, seharusnya semua kedamaian ini meliputi semua, haruskah damai dan tentram ini dia miliki sendiri dan meninggalkan semua yang lain berjuang sendiri untuk kedamaiannya. Kegelisahannya memuncak ketika raganya menagih kehangatan dekapan penuh cinta dari orang-orang yang meriakan kehidupannya atau bahkan mangganggu ketenangannya. Kegelisahannya makin tidak menentramkan, dia merindukan ruang kerjanya yang berantakan. Dia merindukan kendaraannya yang dengan garang meraung mencoba menggeliat dari cengkraman kemacetan. Dia merindukan tawa senang dari anaknya yang telah menghapus file penting dikomputernya. Dia merindukan istrinya yang selalu setia menyiapkan perlengkapan kerjanya. Dia rindu teman-teman yang selalu dia berikan job dan membuat mereka kreatif berkarya. Sekarang dalam damai tentram ketinggian, rindunya memuncak dan gelisah menggaruk perasaan yang menimbulkan rasa tidak tentram.
“Pak, waktunya makan siang” tegur rekannya membuyarkan segalanya dan mendapati dirinya tengah berdiri dibalik jendela dan memandang keluar dari ketinggian.
Filed under Dimensi, cerita kata, lisan indah | Comment (0)Day # 1 Enter to The Global Tower
Day # 1.
Enter to The Global Tower
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga waktunya untuk bergabung dalam project. Setelah sempat menjalani perjalanan ke Banyuwang lewat Selat Bali dalam rangka menemani Auditor. Oh ya, Alhamdulillah hasil auditnya tidak terlalu mengecewakan, meski telah diprediksi sebelumnya akan ada banyak temuan. Tidak sampai beberapa lama (2 hari doang), permintaan untuk bergabung di project mengharuskan keberangkatan, dan akhirnya bergabung di sini.
Tak ada yang terlalu istimewa, ya selain ruangan yang terletak di lantai 23 Menara Global, Selebihnya Langsung bergabung dan melakukan diskusi dengan konsultan membahas tentang project ini. Hmm..konsultannya sejauh ini cukup Ko-operatif dan menyenangkan. Memang sih belum terlalu banyak hal yang dibahas, isu-isu baru dan dan termutakhir tentang kondisi dan orientasi project ini. Simpulannya Hari pertama di menara Global dan pertemuan pertama dengan konsultan bisa dikatakan biasa aja. Mungkin canggung di sana sini, tapi itu rasanya masih cukup wajar.
Source Image : http://chaidir.files.wordpress.com/2007/…
Filed under Dimensi, cerita kata | Comment (0)Arus Selat Bali (pada perjalanan 1.0)
Aku duduk dan memandang laut selat bali dari ruangan head pabrik di lantai dua. Arusnya seperti biasa kencang dan berombak. Semalam sewaktu tiba di denpasar dan melanjutkan perjalanan menuju banyuwangi, dan membelah selat bali dengan kapal ferry yang “geol-geol” digoyang ombak. Alhamdulillah, semalam itu ombak dan angin tidak terlalu kencang. Yah, goyangannya sih terasa memang, tapi rasanya biasa saja. Mungkin karena kebiasaan nyeberang laut kali.
Dengar-dengar sih ada peringatan dari BMG, kalau setiap saat selalu ada ancaman ombak besar. Yang ada juga semalam di newsticker metrotv mengabarkan ada kapal ikan yang tenggelam di laut bali, semua awak hilang. Beberapa bulan yang lalu juga Kapal pengangkut semen yang menuju pabrik ini juga karam akibat tabrakan dengan kapal tanker Pertamina, katanya sih akibat terseret arus selat bali.
Sambil memandang selat bali, aku menunggu Sang Auditor yang lagi dijemput di Surabaya. Mungkin baru tiba sore hari sebab perjalanan dari surabaya butuh waktu 8 jam, perkiraan tiba sore di pabrik. Hmmmm…masih cukup waktu untuk menikmati birunya selat bali dari ruang sang Head Pabrik yang juga temanku. (banyuwangi, 14 Juli 2008 ; 10.38)
Filed under Dimensi, cerita kata, jalan-jalan | Comment (0)prolog pada sebuah perjalanan
“sebuah perjalanan sudah disiapkan, untuk sebuah tujuan yang harus segera dimulakan”
sebaris kalimat yang tiba-tiba saja muncul di benakku..ketika ada kabar aku harus berangkat segera ke Jakarta untuk sebuah project di perusahaan.
Terlintas kemudian dalam benakku, anakku yang baru belajar berjalan, lucu dan nakal. hhhh..hela nafas sedikit mengurangi beban, aku harus berpisah dengan anakku [dan ibunya juga, hehehhe..]..
ini bukanlah perjalanan pertama, dan bukan pula yang pertama aku berpisah dengan keluarga, Setidaknya sudah puluhan perjalanan telah kujalani. Tapi perjalanan kali ini sunggulah berbeda, setidaknya ada hal [yang tidak dapat kudefinisikan] yang serasa mengaduk-aduk perasaan.
Yah, karena ini tugas, maka aku harus berangkat….
…..aku akan mencatat setiap pengalaman menarik harian di blogku ini…sebagai catatan harian yang selalu dapat kubaca di masa yang akan datang…
[Sebuah puisi coba aku sadur untuk perjalanan ini..]
Layar dan angin..
Saat angin mulai meniup helai-helai rerambut di tengkukmu
maka pandanglah ke arah dermaga,
sudahkah phinisimu akan bertolak..
saat angin mulai melambaikan dedaun kelapa di pantai
maka pandanglah ke arah barat
sudahkah gurat kemerahan menjemput gelap…
Saat angin mulai menggoyangkan layarmu..
maka pandanglah ke arah pantai
sudahkah kau titipkan kecintaanmu..pada janji sang pengembara…
“Sang pengembara sudah pulang//dalam kerinduan yang tak terperikan//akan pantai dan dermaga//akan akar dan pucuk pohon yang menunggu..menawarkan kehangatan dalam teduh….”
Filed under Dimensi, cerita kata | Comments (2)Jucelino Noberga da Luz
Ramalan Jucelino Noberga da Luz
(Erabaru.or. id) - Jucelino Nobrega da Luz adalah orang Brasil, lahir tahun 1960, profesinya saat ini ialah guru sekolah, dan dengan istri serta kedua anaknya menjalani hidup yang sederhana, ia adalah penduduk kota yang sangat biasa. Peristiwa yang ia ramalkan disertai tanggal, bulan, tahun kejadian bencana besar dan dilengkapi dengan petunjuk yang jelas, selain itu agar di kemudian hari jikalau terdapat pihak ketiga yang meragukan kesahihan ramalannya, Jucelino selalu mempublikasikan ramalan dengan tanggal dan peristiwa kejadian, meminta untuk disahkan biro notaris atau jawatan pos negara, sehingga memudahkan pihak lain melakukan pemeriksaan. Continue reading »
Tahukah Anda ?
“Penting Untuk diketahui beberapa Hal di bawah ini”
Tahukah anda bahwa, beberapa hal dibawah ini sangat penting. Memang sepertinya remeh tapi bisa jadi setiap hari tak pernah lepas dari kehidupan anda dan…hmmm.. Continue reading »
Filed under Dimensi, Various, berita | Comment (0)99 Persen Kegagalan karena Pasrah
99 Persen Kegagalan karena Pasrah *
Di dalam diri manusia terdapat tiga komponen yakni jiwa, ego, dan daging.
Jiwa tidak terlihat dan jika dilepas jangan-jangan semuanya sama yakni dari cahaya.
Tapi sebagai manusia kita semua tampak berbeda, dan perbedaan inilah yang harus disyukuri.
Manusia memiliki ego dan ego selalu menginginkan yang bagus. Namun jika seseorang buat sedemikian rupa sehingga tampak santun, maka orang di depannya menjadi senang. Melakukan hal yang santun itu dikarenakan jiwa. Kata-kata yang ada dalam jiwa sangat respek dan menjadi hal yang benar-benar fundamental (dasar). Continue reading »
Filed under Dimensi | Comments (3)WARGA MENANGIS TAK MENDAPAT JATAH BERAS OP
Metrotvnews.com, Tapanuli Utara: Ratusan warga Desa Pansur Napitu, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, kecewa karena tidak mendapat jatah beras dalam operasi pasar beras murah. Padahal, mereka telah antre dan berdesak-desakan untuk mendapatkan beras yang lebih murah dari harga pasar.
Ratusan warga tidak mampu berebut beras dalam OP beras murah yang digelar Badan Urusan Logistik Sumut. Dalam operasi pasar ini, beras dijual seharga Rp 1.600, jauh dari harga di Pasar Tarutung yang mencapai Rp 5.500 per kilogram. Karena jatah beras murah terbatas, dari 700 kepala keluarga hanya sebagian yang mendapat jatah. Sebagian warga kecewa. Bahkan ada di antara mereka yang menangis karena tidak memperoleh beras, meski telah antre lebih dari tiga jam.
Sebanyak 2,5 ton beras murah dikeluarkan Bulog Sumut dalam operasi beras kali ini. Meski aparat pemda setempat mengurangi jatah, dari 15 kilogram menjadi 10 kilogram per KK, tetap saja masih banyak warga yang tidak memperoleh beras murah.(DEN)
“Hmmm..Katanya Mau ekspor beras..!!!”
source berita : http://metrotvnews.com/berita.asp?id=580…
Filed under berita, cerita kata | Comment (0)STOP PRESS !!! Nelayan Pulau Lae-Lae Ditangkap Di Australia
STOP PRESS !!! Nelayan Pulau Lae-Lae Ditangkap Di Australia.
Sekurang-kurangnya 8 (delapan) Unit Kapal nelayan (Jolloroq) milik nelayan dari pulau Lae-lae Makassar, tertangkap di perairan Australia. Para nelayan yang tertangkap sedang ditahan di penjara Otoritas Australia.
Menurut salah seorang nelayan yang sempat lolos dari penangkapan, bahwa semua kapal yang ditangkap telah dibakar oleh polisi Australia. Masih menurut dia, bahwa dia dilepaskan karena belum sempat melakukan pengambilan teripang. Meski begitu polisi Australia sempat menggeledah dan membongkar kapal mereka serta memberi hukuman kepada seluruh awak kapal dengan menelanjangi mereka.
Sedangkan menurut kesaksian mereka yang tertangkap, bahwa setelah kapal mereka dibakar, mereka kemudian dibawa ke tahanan kepolisian Australia. Mereka akan ditahan selama kurang lebih tiga bulan. Sementara awak kapal yang masih dibawah umur akan dikembalikan secepatnya ke Indonesia. “Kami makan dan minum susu di sini, tidurnya di kamar khusus dengan tempat tidur yang layak untuk dua orang. setidaknya kami merasakan fasilitas seperti di hotel, yang tidak pernah dirasakan di Lae-lae.” Kata mereka menghibur keluarga yang khawatir di Lae-lae.
Sejauh ini belum ada rilis resmi dari Kedubes Indonesia di Australia tentang penangkapan Nelayan-nelayan Indonesia di Australia.
Filed under Dimensi, berita, homeland | Comment (0)“Mohon berita ini disebarluaskan, untuk mendapat tanggapan dari Pihak yang berwajib di Indonesia”
